Dua pemakaman, hanya kurang dari 10 mil terpisah di kota metropolis Asia yang ramai, dengan suara bising, sejuta jiwa, menjadi saksi dari horor, pengorbanan, dan sejarah Perang Dunia II.
Pergi ke salah satunya, kamu bisa melihat nama-nama dan membaca cerita-cerita orang yang terkubur di sana, lebih dari 17.000 tentara, hampir semuanya hilang dalam pertempuran di sepanjang Pasifik dari 1941 hingga 1945.
Pahlawan mereka — 16.938 salib Latin dan 175 Bintang Daud — disusun dalam barisan rapi di atas rumput yang terawat dengan rapi di lahan seluas 152 hektar di Manila American Cemetery.
Pergi ke yang lain dan kamu akan melihat hanya satu salib putih, beberapa langkah dari lubang di tanah yang mengarah ke penjara dari benteng batu tua Spanyol.
Dasarnya berisi inskripsi: “Salib ini menandai tempat peristirahatan terakhir sekitar 600 orang Filipina dan Amerika yang menjadi korban kekejaman selama akhir Februari 1945.”
Di sini tidak ada cerita individu, namun kisah lokal mengatakan roh-roh mereka yang tewas di penjara-penjara Fort Santiago tetap ada dan terkadang membuat diri mereka dikenal kepada pengunjung.
Angker dan kudus. Inilah sisa-sisa terakhir dari konflik global di Manila.
Hanya beberapa langkah dari gedung pencakar langit bersinar di lingkungan Bonifacio Global City di ibukota Filipina, Manila American Cemetery adalah sebuah oasis ketenangan di salah satu kota paling padat penduduk di dunia.
Suara lalu lintas yang terkenal di Manila menjadi hening sesaat saya melewati gerbang tempat pemakaman. Tidak ada suara motor skuter, tidak ada dentuman mesin jeepney, tidak ada teriakan klakson mobil yang tak henti. Ketenangan menenangkan hanya terganggu oleh sesekali pesawat jet lepas landas dari Bandara Internasional Manila, tiga mil di sebelah barat, atau kereta golf petugas pemeliharaan.




