Beranda Indonesia Ekspor tuna Indonesia menuju akses bebas tarif ke Jepang

Ekspor tuna Indonesia menuju akses bebas tarif ke Jepang

27
0

Tanggal 20 Januari 2026

JAKARTA – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan bahwa ekspor tuna olahan dan cakalang Indonesia ke Jepang akan menerima pengurangan tarif impor menjadi nol persen dari 9,6 persen saat ini. Kebijakan ini merupakan bagian dari amandemen Perjanjian Kemitraan Ekonomi Indonesia-Jepang (IJEPA), yang diharapkan oleh Jakarta akan signifikan meningkatkan daya saing di salah satu pasar makanan laut terbesar di dunia.

Ditandatangani pertama kali oleh mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan mitranya dari Jepang Shinzo Abe pada tahun 2007, IJEPA disepakati untuk direvisi pada tahun 2024 untuk memperkuat kemitraan ekonomi bilateral antara kedua negara.

Kementerian kelautan sedang mempersiapkan surat edaran untuk meratifikasi kesepakatan, serta menetapkan prosedur pendaftaran untuk mendapatkan tarif nol persen.

Unit pengolahan ikan yang ingin mendapatkan manfaat dari tarif preferensial IJEPA harus mengajukan dokumen lisensi dan sertifikasi ke kementerian, termasuk Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP), prosedur operasi standar, dan catatan jejak, yang kemudian akan diverifikasi dan diperiksa. Unit yang disetujui setelah jendela pengolahan, yang dibuka hingga 26 Januari, akan dikirim ke Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang melalui catatan diplomatik.

Dirjen kesambaan produk kelautan dan perikanan Machmud mengatakan bahwa produk tuna kaleng Indonesia dan produk tuna olahan lainnya saat ini menduduki peringkat ketiga di antara ekspor teratas di pasar Jepang, dengan nilai ekspor mencapai US$30,28 juta. Indonesia juga mencatat pertumbuhan ekspor yang lebih kuat daripada pesaing regional, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 13,82 persen, lebih tinggi dari Thailand yang mencapai 12,12 persen dan Filipina yang mencapai 6,31 persen.

“Dengan tarif nol persen, ekspor tuna dan cakalang kami akan menjadi lebih kompetitif, dan kami optimis Indonesia bisa menjadi nomor satu di Jepang,” kata Machmud dalam pernyataan pada Jumat.

Menteri kelautan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan bahwa ia optimis produksi tuna dan cakalang Indonesia bisa meningkatkan ekspor ke Jepang, Singapura, dan pasar lainnya. Ia menekankan pentingnya fasilitas penyimpanan dingin yang memadai untuk menjaga kualitas, meningkatkan daya saing, dan memperluas ekspor tuna ke berbagai destinasi.

Bulan lalu, kementerian kelautan melaporkan bahwa Indonesia tetap menjadi pengekspor perikanan neto, dengan surplus perdagangan sebesar $4,53 miliar dalam sepuluh bulan pertama tahun 2025, naik 2,9 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor total mencapai $5,07 miliar, sementara impor sebesar $540 juta.

Ekspor tumbuh di pasar utama, dipimpin oleh ASEAN yang naik 22,7 persen menjadi $811,64 juta, diikuti oleh Amerika Serikat yang naik 2,6 persen menjadi $1,604 miliar; Jepang yang meningkat 2,3 persen menjadi $506,28 juta; dan Uni Eropa yang naik 8,3 persen menjadi $379,54 juta.

Berdasarkan komoditas, ekspor udang naik 8,6 persen, ekspor tuna dan cakalang naik 2,6 persen, sementara cumi, sotong, dan gurita naik 1,9 persen. Kementerian mengaitkan pertumbuhan ini dengan inisiatif seperti Grup Kerja Tuna ASEAN, upaya memenuhi persyaratan ekspor AS, serta lokakarya dan pelatihan audit HACCP internal.

Investasi di sektor kelautan dan perikanan juga mencapai Rp 7,8 triliun ($460 juta) pada kuartal ketiga tahun 2025, didominasi oleh fasilitas pengolahan sebesar 32,26 persen, diikuti oleh akuakultur (27,48 persen), pemasaran (21,72 persen), perikanan tangkap (15,35 persen), dan layanan perikanan (3,19 persen).

[Context: Indonesia has renegotiated the import tariff reduction on processed tuna and skipjack to boost exports to Japan.] [Fact Check: IJEPA was first signed by Susilo Bambang Yudhoyono and Shinzo Abe in 2007 and revised in 2024.]