Hanya beberapa minggu masuk tahun 2026, media sosial sudah mulai bersifat reflektif. Di berbagai platform, pengguna sedang mengulang kembali kenangan, suara, dan energi tahun 2016, memicu tren nostalgia yang luas yang memperlakukan pertengahan 2010-an sebagai babak kehidupan internet yang lebih menyenangkan. Kebangkitan ini lebih tentang emosi daripada akurasi, didorong oleh keinginan untuk terhubung kembali dengan waktu ketika berselancar di dunia maya terasa menyenangkan daripada mendebarkan.
Internet tahun 2016 lebih berantakan, lebih keras, dan jauh lebih tidak rapi. Filternya mencolok, foto-foto terlalu jenuh, dan postingan jarang dipikirkan terlalu lama. Feed hari ini, dibentuk oleh tren dan algoritma, terasa lebih diatur dan dihitung. Melihat ke belakang, banyak pengguna mengaitkan era sebelumnya dengan spontanitas, memposting sesuatu hanya karena terasa layak untuk dibagikan, bukan karena sesuai dengan estetika atau strategi tertentu.
Pembalikan visual ada di inti dari tren ini. Warna-warna cerah, swafoto berbutiran dan efek yang disengaja “jadul” dianggap sebagai bentuk kenyamanan digital. Apa yang dulu terasa ketinggalan zaman kini menjadi pesona, sebuah pengingat ketika media sosial terasa eksperimental daripada sempurna. Menciptakan kembali tampilan tahun 2016 telah menjadi cara untuk sejenak melarikan diri dari keseragaman yang halus dari feed modern.
Humor dari era itu juga sedang mengalami kebangkitan. Meme lama dibagikan ulang bukan karena kecerdasannya, tetapi karena kelakuan mereka. Dibandingkan dengan siklus meme yang sangat sadar diri dan cepat bergerak saat ini, lelucon internet sebelumnya terasa lebih lambat dan lebih mudah diakses. Nostalgia menunjukkan rasa rindu akan momen daring bersama yang tidak memerlukan konteks, ironi, atau pembaruan konstan untuk tetap relevan.
Bagian dari daya tariknya terletak pada bagaimana internet itu sendiri telah berubah. Dengan munculnya otomatisasi dan konten yang tak ada habisnya, banyak pengguna merasa lelah oleh volume materi yang bersaing untuk perhatian. Mengulangi tahun 2016 menawarkan reset mental, sebuah pengingat ketika ruang online terasa lebih kecil, lebih manusiawi, dan lebih mudah dinavigasi.
Yang penting, tren ini bukan tentang mengatakan bahwa 2016 adalah waktu yang sempurna. Banyak isu yang membentuk dunia digital saat ini sudah ada saat itu. Tetapi jarak telah meredam kenangan itu, memungkinkan pengguna untuk fokus pada kesenangan, kekacauan, dan ketidakterdugaan yang menentukan era itu. Nostalgia, dalam arti ini, menjadi kurang tentang masa lalu dan lebih tentang suasana hati.
Pada akhirnya, kembali ke tahun 2016 mencerminkan kerinduan kolektif akan kelenturan. Di lingkungan digital yang sering terasa ramai dan melelahkan, melihat ke belakang menawarkan rasa keakraban dan kenyamanan. Bagi banyak orang, mengulangi era itu hanyalah cara untuk mengingat kembali ketika internet terasa seperti taman bermain lagi dan membawa sedikit energi itu ke tahun 2026.




